 |
| Akses masuk sekolah Master Depok |
 |
| Wujud sekolah Master yang indah |
 |
| Angi berbagi suka bersama anak Master |
 |
| Keiko berjabat tangan erat dengan anak Master |
 |
| Naufal dengan senyum ceria berbagi bahagia |
|
 |
| Do'a bersama untuk keselamatan dan kesehatan |
 |
| Guru MIS memberikan sumbangan kepada sekolah Master |
\ |
| Haqqi dan anak Master |
Program Community Service yang diadakan pertama kali ini, siswa kelas 3B Madina Islamic School Tebet Jakarta berkunjung ke Sekolah Master, Depok pada Hari Jum'at tanggal 27 September 2013. Kunjungan siswa kelas 3B ke sekolah Master ini bertujuan untuk membangun rasa empati siswa Madina Islamic School agar dapat berempati serta caring & sharing dengan teman-teman siswa sekolah Master.
Siswa sekolah master ini menuntut ilmu di sela-sela pekerjaan menjadi pemulung, semir sepatu, pengamen, ada anak yang berjualan kantong plastik di pasar, tukang parkir dan anak berasal dari kondisi orang tua yang perekonomiannya dibawah rata-rata.
Lokasi sekolah Master ini berada di jalan Margonda Raya No.58 Kelurahan Depok Kecamatan Pancoran Mas Terminal Terpadu Kota Depok. Jika dilihat dari lampu merah pertigaan Ramanda, mengarah ke (barat) Fly Over Jalan Arief Rahman Hakim. Ambil jalan paling kiri (bawah fly over), terlihat gerbang masuk Sekolah Master Depok. Tampak gerbang pintu masuk, Plag Papan nama sekolah gratis dan ruang kelas dari kontainer warna hijau tua dan warna warni lainnya.
Kegiatan kami disana, yaitu berkunjung ke kelas 3, yang mereka menyebutnya sebagai kelas Ceria 3. Satu kelas terdiri dari 55 anak dan dua pengajar/tutor. Salah satu gurunya bernama Bunda Sri, yang menjelaskan kegiatan belajar sehari-hari di sekolah Master tersebut. Pagi hari, pukul 07.30 – 09.00 ada hafalan satu ayat/hari, shalat dhuha, kemudian membaca iqro/al-quran setelah itu, KBM baru dijalankan hingga pukul 12.00.
Kami tiba disana sekitar pukul 09.30, setelah menempuh perjalan 1 jam dari Tebet.
Disana kami disambut oleh kepala sekolah dan beberapa guru, kemudian dijelaskan sekilas mengenai Sekolah Master. Kondisi siswa disana pun sangat jauh berbeda dengan penampilan siswa Madina Islamic School, siswa sekolah Master tidak memakai seragam sekolah seperti sekolah pada umumnya. Mereka ada yang tidak bersepatu dan hanya memakai sandal jepit, namun semangat mereka dalam menuntut ilmu sangat tinggi, terlihat dari antusias siswa yang unjuk performance ketika kami menghampiri teman-teman ke kelasnya. Kami pun juga bergantian dengan sedikit perform, yaitu dengan muroja’ah surah Al-Mulk, yang telah kami hafal dari pelajaran Tahfizh.
Hal ini yang membuat kami (siswa Madina) menjadi sangat kagum melihat semangat belajar teman-teman disana meskipun berbagai keterbatasan yang mereka miliki. Kemudian tibalah waktu untuk berpamitan, karena hari sudah mulai siang. Namun, sebelum pamit, satu persatu dari kami berjabat tangan dan memberikan sesuatu yang telah kami bawa, sebuah perlengkapan sekolah untuk teman-teman disana, hasil dari dana charity yang telah kami kumpulkan dari uang jajan kami selama satu bulan sebelumnya, dan bantuan dari orang tua kami, sebagai bentuk share kami kepada teman-teman disana. Alhamdulilllah teman-teman disana sangat senang menerima pemberian dari kami. Semoga dapat bermanfaat dan menambah semangat belajar mereka, karena kami (siswa Madina) juga banyak belajar dari mereka yang tetap semangat belajar meskipun dalam keterbatasan. Maka seharusnya, kami pun juga harus lebih bersemangat juga dalam menuntut ilmu.
Cikal bakal sekolah ini berdiri tahun 2000 lalu, pada tanggal 28 Oktober. Berawal remaja masjid di terminal Depok yang kasihan melihat anak jalanan yang berkeliaran tak terdidik. Para pengajar banyak dari mahasiswa UI, BSI, Gunadarma, Unindra, dan yang lainnya, mereka menjadi relawan. "Ada beberapa siswa sekolah master yang berprestasi, mereka juara tingkat Depok, juara tingkat provinsi, dan juara tingkat nasional. Ada yang juara olimpiade, lomba tahfizh quran, lomba siswa berprestasi, lomba karya tulis ilmiah, lomba musik, lomba membuat film dokumenter," ungkap kepala sekolah Master yang kami kunjungi. Sekolah ini gratis, tidak dipungut biaya sedikitpun dari siswanya, berada di bawah naungan Yayasan Bina Insan Mandiri (YABIM) , bagi anak-anak Dhuafa di sekitar terminal Depok yang lebih dikenal dengan nama Sekolah MasTer (akronim dari MASjid TERminal) karena memang dulunya anak-anak tersebut mulai belajar dari pojok bangunan tempat ibadah itu. Hingga saat ini siswa kelas 1-6 SD berjumlah 377 siswa, dan total siswa dari SD-SMA berjumlah sekitar 3.000 siswa.
Namun, sekolah Master yang dahulu kerap disebut masjid terminal ini akan digusur Pemkot Depok. Kabarnya anak jalanan yang berkumpul menjadi alasan. Kami berharap semoga sekolah ini tetap dapat dipertahankan. Semoga suatu saat nanti kami bias dating kembali tuk berbagi apa saja… Hidup sekolah Master…!!! Kami akan selalu bersama kalian baik suka maupun duka… tetap semangat belajar ya..!!!
No comments:
Post a Comment