Akhir-akhir ini pemandangan dijalanan ibukota dari terbit matahari hingga larut malam disuguhkan dengan kemacetan yang luar biasa, saya rasakan jakarta kian padat saja, kebetulan saya tinggal di daerah Depok yang merupakan daerah penyangga ibukota, setiap pagi hari kondisi jalanan padat merayap, padahal berangkat selepas shubuh keadaan masih gelap gulita tetapi pas keluar komplek sudah banyak sekali orang dijalanan berkutat dengan kemacetan, pagi hari ini tepatnya tanggal 18 Agustus 2010, saya berusaha jangan sampai terlambat masuk kantor, karena kalau sampai terlambat sampai 3 kali berturut-turut atau 5 hari tidak berturut-turut dalam satu bulan siap-siap dapat SP 1 (Surat Peringatan) dari atasan, saya berangkat jam 05.30 WIB, saya tinggal di Kemang Swatama Depok Residence, Depok, Jawa Barat, situasi masih lengang dan sepi serta gelap gulita, kabut tipis mengiringi ketika mau berangkat hingga keluar kompleks perumahan, selepas jalan studio alam pemandangan sudah mulai banyak pengendara kendaraan bermotor melintas di jalan Tole Iskandar hingga jalan Juanda, selepas pertigaan saya sudah dipusingkan dengan kondisi jalan Margonda yang super padat padahal Pemkot Depok sudah membuat 2 lajur untuk satu arus tetapi Depok tetap macet juga, saya melihat karena faktor jumlah kendaraan yang melimpah ruah, serta angkot yang terkadang ngetem sembarangan tuk mencari penumpang, ditambah jumlah motor yang membludak, menit demi menit begitu berarti, saya berdo'a semoga di jalan berikutnya tidak menemukan kemacetan lagi, tetapi apa yang terjadi? justru selepas dari Depok kemacetan langganan terjadi di Lenteng Agung hingga Pasar Minggu, sebelum Underpasss macet total kecepatan cuma 5 Km/jam, ternyata ada taksi yang mogok, saya membayangkan bagaimana kalau Kontainer yang mogok? bisa berapa panjang kemacetannya? inilah fenomena yang saya hadapi hampir setiap hari, tetapi alhamdulillah hari ini saya tidak terlambat datang ke kantor, saya berpikir sampai kapan jakarta tidak macet? saya kaget melihat tayangan di televisi ada sebuah analisa yang masuk akal sekitar tahun 2015 jakarta akan macet total, dimana tidak sejengkal tanah pun di ibukota yang tidak macet. Saya khawatir apabila kondisi ini terjadi manusia di jakarta tidak bisa melaksanakan aktivitasnya dan ada sebuah prediksi akibat kemacetan ini, sektor usaha dirugikan hingga mencapai Rp. 12,8 Triliun pertahun. Sungguh sangat merugikan. Ini diperparah apabila jalanan di Jakarta rusak parah, kemacetan total makin nyata saja. Pertumbuhan luas jalan dengan pertumbuhan angka produksi kendaraan tidak berimbang dimana produksi kendaraan lebih tinggi dibanding dengan ketersediaan infrastruktur jalan yang ada. Pertumbuhan luas jalan di ibukota hanya 0,01 % pertahun. Sedangkan pertumbuhan penggunaan kendaraan bermotor mencapai 10 % pertahun. Sungguh memprihatinkan. Transportasi masal seperti TransJakarta tidak memberikan solusi terlalu banyak untuk menghindari kemacatan Jakarta, malahan TransJakarta masih menyisakan permasalahan seperti tingkat kecelakaan dll. Keberadaan monorail pun masih diperdebatkan apakah Jakarta sudah siap apa belom? menurut saya solusi yang baik adalah kebesaran hati dan kesadaran masyarakatnya agar menggunaan kendaraan seefisien mungkin. Artinya apabila dalam satu keluarga punya 5 mobil yang dipakai satu saja biar kondisi ruas jalan taidak makin sumpek dan padat. Saya bermimpi suatu saat nanti Jakarta menjadi kota yang indah dengan segala keteraturannya di jalan raya serta menjadi kota yang nyaman untuk di huni dan menjadi tempat kerja yang menyenangkan. Tapi kapan ya? Kita tunggu saja... sekarang ini yang bisa kita perbuat adalah bersabar dan ikhlas menerima keadaan ini. Saya berharap Pemda DKI Jakarta mampu memberikan solusi menguarai kemacetan Jakarta yang menggurita. Semoga.Total Pageviews
Wednesday, August 18, 2010
Jakarta Macet Lagi
Akhir-akhir ini pemandangan dijalanan ibukota dari terbit matahari hingga larut malam disuguhkan dengan kemacetan yang luar biasa, saya rasakan jakarta kian padat saja, kebetulan saya tinggal di daerah Depok yang merupakan daerah penyangga ibukota, setiap pagi hari kondisi jalanan padat merayap, padahal berangkat selepas shubuh keadaan masih gelap gulita tetapi pas keluar komplek sudah banyak sekali orang dijalanan berkutat dengan kemacetan, pagi hari ini tepatnya tanggal 18 Agustus 2010, saya berusaha jangan sampai terlambat masuk kantor, karena kalau sampai terlambat sampai 3 kali berturut-turut atau 5 hari tidak berturut-turut dalam satu bulan siap-siap dapat SP 1 (Surat Peringatan) dari atasan, saya berangkat jam 05.30 WIB, saya tinggal di Kemang Swatama Depok Residence, Depok, Jawa Barat, situasi masih lengang dan sepi serta gelap gulita, kabut tipis mengiringi ketika mau berangkat hingga keluar kompleks perumahan, selepas jalan studio alam pemandangan sudah mulai banyak pengendara kendaraan bermotor melintas di jalan Tole Iskandar hingga jalan Juanda, selepas pertigaan saya sudah dipusingkan dengan kondisi jalan Margonda yang super padat padahal Pemkot Depok sudah membuat 2 lajur untuk satu arus tetapi Depok tetap macet juga, saya melihat karena faktor jumlah kendaraan yang melimpah ruah, serta angkot yang terkadang ngetem sembarangan tuk mencari penumpang, ditambah jumlah motor yang membludak, menit demi menit begitu berarti, saya berdo'a semoga di jalan berikutnya tidak menemukan kemacetan lagi, tetapi apa yang terjadi? justru selepas dari Depok kemacetan langganan terjadi di Lenteng Agung hingga Pasar Minggu, sebelum Underpasss macet total kecepatan cuma 5 Km/jam, ternyata ada taksi yang mogok, saya membayangkan bagaimana kalau Kontainer yang mogok? bisa berapa panjang kemacetannya? inilah fenomena yang saya hadapi hampir setiap hari, tetapi alhamdulillah hari ini saya tidak terlambat datang ke kantor, saya berpikir sampai kapan jakarta tidak macet? saya kaget melihat tayangan di televisi ada sebuah analisa yang masuk akal sekitar tahun 2015 jakarta akan macet total, dimana tidak sejengkal tanah pun di ibukota yang tidak macet. Saya khawatir apabila kondisi ini terjadi manusia di jakarta tidak bisa melaksanakan aktivitasnya dan ada sebuah prediksi akibat kemacetan ini, sektor usaha dirugikan hingga mencapai Rp. 12,8 Triliun pertahun. Sungguh sangat merugikan. Ini diperparah apabila jalanan di Jakarta rusak parah, kemacetan total makin nyata saja. Pertumbuhan luas jalan dengan pertumbuhan angka produksi kendaraan tidak berimbang dimana produksi kendaraan lebih tinggi dibanding dengan ketersediaan infrastruktur jalan yang ada. Pertumbuhan luas jalan di ibukota hanya 0,01 % pertahun. Sedangkan pertumbuhan penggunaan kendaraan bermotor mencapai 10 % pertahun. Sungguh memprihatinkan. Transportasi masal seperti TransJakarta tidak memberikan solusi terlalu banyak untuk menghindari kemacatan Jakarta, malahan TransJakarta masih menyisakan permasalahan seperti tingkat kecelakaan dll. Keberadaan monorail pun masih diperdebatkan apakah Jakarta sudah siap apa belom? menurut saya solusi yang baik adalah kebesaran hati dan kesadaran masyarakatnya agar menggunaan kendaraan seefisien mungkin. Artinya apabila dalam satu keluarga punya 5 mobil yang dipakai satu saja biar kondisi ruas jalan taidak makin sumpek dan padat. Saya bermimpi suatu saat nanti Jakarta menjadi kota yang indah dengan segala keteraturannya di jalan raya serta menjadi kota yang nyaman untuk di huni dan menjadi tempat kerja yang menyenangkan. Tapi kapan ya? Kita tunggu saja... sekarang ini yang bisa kita perbuat adalah bersabar dan ikhlas menerima keadaan ini. Saya berharap Pemda DKI Jakarta mampu memberikan solusi menguarai kemacetan Jakarta yang menggurita. Semoga.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
2 comments:
bagus bos tuisan ente aku yakin kedepan bila di asah terus tidak menutup kemungkinan ente jadi penulis yang handal. tapi ingat tetap perlu belajar lagi dari siapa dan apapun serta dimanapun. selamat
thanks atas doanya cak...
Post a Comment